Langsung ke konten utama

Anakku Lebih Memilih Istrinya Dibandingkan Aku?

Hari ini, tidak seperti biasanya saya hanya beraktivitas di rumah. Selain saran dari theraphist kemarin agar me-rilekskan tubuh dan karena butuh supply oksigen lebih dan karena kendaraan pribadiku sedang digunakan suamiku, jadi saya hari ini berdiam diri di kamar sambil membaca buku dan berinteraksi dengan teman-teman melalui medsos.
Karena sudah mulai bosan, saya keluar rumah menggoda kucing-kucing lucu di teras.
“Neng…. Beli dendeng, Neng? Ikan asin nih bagus-bagus. Keripik juga ada,” ujar seseorang tiba-tiba.
Saya menoleh. Sesosok wanita dengan wajah teduh berbalut kerudung dengan keranjang plastik terlihat tersenyum memandang saya.
Bimbang menyapa, tidak pingin beli sebenarnya. Tapi melihat wajah teduhnya, rasanya tak tega menolaknya.
“Bu… masuk sini, pagernya gak dikunci,” kata saya tersenyum.
Beliau pun membalas senyuman saya, “Iya, Neng…” jawabnya.
Lalu kami pun duduk di teras.
“Ada apa aja, Bu?” tanya saya.
“Ini dendeng, ikan asin jambal, teri medan, ikan asin selar, abon, peyek, keriping singkong,” jawabnya.
“Berapaan keripik singkong?” tanya saya.
“8000-an, Neng…” jawabnya.
“Saya beli ini aja yaa, Bu,” kata saya mengambil sebungkus keripik sinkong.
“Iya, Neng… Alhamdulillah. Penglaris pagi..,” katanya.
“Ibu ini sudah siang, berarti sejak pagi ibu belum ada yang beli?” tanya saya.
“Iya, Neng… orang mungkin belum pingin makan daging yaa habis lebaran. Di rumahnya juga masih banyak kue, jadi gak beli keripik,” katanya sambil tersenyum.
“Ini bikin sendiri atau ambil dari yang lain, Bu?” tanya saya.
“Kalau keripik saya bikin sendiri, kalau dendeng sama ikan asin ngambil di orang. Gak laku dipulangin,” jawabnya. “Panas amat cuacanya yaa, Neng.”
“Ooh… saya ambilin minum yaa, Bu…”
“Ih Neng, jadi ngerepotin,” katanya.
“Ahh gak ngerepotin juga, Bu…yang repot mah pabriknya, saya mah cuma ambil dari ruang tamu doang,” kata saya sambil tertawa, masuk rumah sebentar mengambil dompet dan air minum.
“Ah.. Jadi numpang ngaso nih Neng yaa ibu… Panas… Pegel juga jalan…”
“Oh iyaa, Bu…silahkan… Mau di dalem aja apa?” saya tawarkan.
“Ahh enggak Neng enak di sini, rumah Neng adem, rimbun pepohonan, jadi banyak angin,” katanya sambil menatap sekeliling rumah.
“Bapak kerja apa, Bu?” tanya saya.
“Bapak mah apa aja Neng, ngikut-ngikut orang kerja apa aja, dulunya kerja di proyek bangunan gitu. Sekarang udah tua. Sebisa-bisanya aja,” jawabnya.
“Anak ada berapa, Bu?” tanya saya.
“Anak saya 3, 2 laki-laki, 1 perempuan. Yang perempuan di Surabaya, yang laki-laki satu di Lampung, satu di Bogor.”
“Waah lebaran habis ngumpul dong Bu yaaa….” kata saya bersemangat.
Tiba-tiba ibu itu diam, matanya berkaca-kaca. “Enggak Neng…,” jawabnya lirih.
Saya tercekat… Astaghfirullah… Saya salah berucap… Betapa menyesalnya saya. “Ibu… maaf yaa kalau saya salah bicara,” kata saya penuh penyesalan.
“Enggak Neng… gak apa-apa. Anak dan menantu Ibu gak mau dekat Ibu. Lebaran jarang datang, hari biasapun begitu. Alasannya jauh, butuh biaya banyak kalau ke sini. Yang satu malah gak pernah pulang sama sekali, gara-gara istrinya salah paham, ibu bilangin jangan tidur pagi, pamali, nanti jauh rejeki, biar gak ngantuk pagi mending beres-beres, nemenin anak main. Terus dia ngadu ke anak Ibu. Enggak tau apa yang disampaikan pokoknya anak Ibu marah, Ibu gak terima, sakit hati Ibu, anak Ibu lebih percaya istrinya daripada ibunya. Anak Ibu gak berpikir, 9 bulan Ibu mengandung, setengah mati melahirkan, susah-payah membesarkan, menyekolahkan, mana mungkin Ibu seorang yang jahat?
“Anak Ibu yang satu lagi gitu juga. Waktu anak Ibu yang perempuan kelas 3 SMA, ibu gak punya uang buat bayar sekolah, Ibu minta bantuan anak. Istrinya gak terima, anak Ibu ngasih ngumpet-ngumpet. Sekalinya ketahuan, jadi ribut besar Neng… Ibu marah Neng… Bukan maksud Ibu minta balas jasa membesarkan anak Ibu, tapi rasanya wajar saja kalau ibu minta bantuan sama anak, kalau bukan sama anak sama siapa lagi? Kalau Ibu bisa, ibu mana yang mau nyusahin anaknya? Ibu mana yang mau ngerepotin anaknya? Malah kalau ada, ibu yang mau ngasih ke anak. Tapi akhirnya mantu Ibu gak pernah datang lagi ke sini, paling anak Ibu aja. Itupun kalau dia mau ngasih, Ibu tolak.
“Sekarang Ibu gak butuh apa-apa, anak-anak sudah berkeluarga semua. Cuma mikirin makan aja berdua sama bapak. Seada-adanya aja. InsyaAllah rejeki dari Allah selalu ada.”
“Anak ibu yang perempuan?” tanya saya.
“Anak Ibu yang perempuan anaknya penurut, tapi suaminya sangat keras, istri harus turut kemauannya semua. Ibu juga gak tau kenapa, semenjak nikah dibawa ke Surabaya, selalu ada aja alasan suaminya untuk tidak datang ke sini baik lebaran atau hari biasa. Istrinya harus selalu ada buat melayani dia, mungkin dia lupa dari mana istrinya lahir ke dunia.
“Kadang ibu mikir, coba mengingat-ingat lagi, adakah ini karena sikap Ibu pada orang tua Ibu atau pada mertua. Tapi rasanya Ibu selalu berusaha memperlakukan orang tua Ibu dan mertua sebaik yang Ibu bisa. Berusaha beri contoh sama anak-anak gimana caranya menyayangi orang tua, ternyata hasilnya tidak sesuai harapan. Tapi sudahlah, mungkin ini bagian dari ujian keikhlasan.
“Tapi, sekarang Ibu udah bisa terima, Anak menantu Ibu sudah Ibu maafkan, walaupun mereka tidak pernah minta maaf sama Ibu. mungkin ini jalan Allah menguji sabar Ibu buat menghapus dosa dan khilaf Ibu sebelumnya.
“Permintaan Ibu cuma, kalau sakaratul maut tiba, jika anak Ibu tidak ada yang menuntun Ibu bersyahadat nanti, mudah-mudahan Allah kirimkan seseorang yang bisa melakukannya. Hati Ibu bersih tulus ikhlas mendoakan, semoga anak-anak Ibu rumah tangganya bahagia, berkah, kecukupan dan di masa tuanya tidak diperlakukan anak mereka seperti mereka memperlakukan Ibu.”
Saya terdiam terpaku mendengar ceritanya. Seperti apa nasibku kelak di akhir hayat? Sanggupkah aku memaafkan anak dan menantuku ketika mereka khilaf? Sanggupkah mereka memaafkanku ketika aku khilaf?
Lamunanku buyar ketika ibu itu mengusap pundakku. “Neng…, Ibu keliling lagi yaaa… Udah seger lagi ini,” katanya tersenyum.
“Ini Bu bayarannya,” kataku.
Mata kami beradu.
“Sayangi orang tua dan mertua ya, Neng… Gak ada orang tua dan mertua yang tidak sayang sama anak dan menantu. Walaupun marahnya, pasti selalu ada doa untuk anaknya,” pesannya sambil berdiri dengan wajah tetap tersenyum.
Saya tersenyum. Sambil melihatnya berlalu, hati saya berujar: Ibu, semoga Allah membolak-balikan hati anak dan menantu Ibu.
Semoga doa Ibu di-ijabah Allah dan semoga keikhlasan Ibu memaafkan anak dan menantu Ibu dibalas dengan surga.
___________________________________________
Penulis: Muhammad, Alumni PTIQ Jakarta fakultas syariah (peradilan agama), sekarang melanjutkan pendidikan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta jurusan Magister Hukum Ekonomi Syariah. Email: muhammad.amedz@gmail.com
Ayo gabung di Lembaga Tuuba Learning Center dalam kegiatan tahsin Al-Qur'an. Info lanjutan hubungi kami melaui facebook klik disini.
___________________________________________
http://militaryanalysisonline.blogspot.com/p/tips-pasang-iklan-di-blog-portal.html
=> KLIK DISINI UNTUK INFO SELANJUTNYA <=

visit www.loogix.com
DVD ANAK SHOLEH SERI TUPI DAN PINGPING HARGA RP. 85.000-,
ORDER SILAHKAN HUBUNGI 085776198615

visit www.loogix.com
DVD HARUN YAHYA SEDANG PROMO NIH, DARI HARGA RP. 150.000-,
JADI RP. 100.000-, ORDER HUBUNGI 085776198625
http://www.loogix.com/

DVD ANAK BERMAIN SAMBIL BELAJAR BERSAMA MIMI ADA 4 CD
PLUS DAPAT 2 BONEKA JARI, PANDUAN DONGENG DAN KARTU CERDAS
DAPATKAN SEMUANYA DENGAN HARGA RP. 95.000
ORDER HUBUNGI 085776198625

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji Allah benar, Setelah 14 Abad wafat Jasad Hamzah (Paman Nabi Saw) Ditemukan Dalam Keadaan Utuh

Oktober 2013 sewaktu terjadi banjir di Madinah, makam 70 orang keluarga Perang Uhud ikut dilanda banjir. Setelah banjir surut, jenasah para sahabat-pun akhirnya terlihat keluar dalam keadaan masih utuh karena mereka dikuburkan di kawasan padang pasir, darahnya masih mengalir harum. Jenasah para sahabat dimakamkan kembali seperti semula tapi tidak lagi diberi nama-nama jenasah tersebut  kecuali jenasah Hamzah ra karena diketahui dari luka didadanya, badannya tinggi besar. Jenasahnya masih berdarah dan harum. Bahkan tangannya masih memegang lukanya akibat terkena tombak, yang masih keluar darah. Walaupun sudah beberapa ribu tahun. Dan yang satu lagi adalah Abdullah bin Jaz ra karena diketahui dari telinga dan hidungnya yang terpotong akibat diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke Gunung Uhud, hanya ada 2 nisan saja. Berikut adalah sebagian isi dari kaset pembicaraan Dr Thariq As-Suwaidan tentang peristiwa te...

Kisah Nyata Pria China Merawat Ibunya Yang Sudah Renta

Foto di atas memperlihatkan seorang pria Cina yang sedang menggendong seorang wanita tua yang adalah ibunya sendiri. Layaknya seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih kecil dengan kain gendongan. Tiga hari selepas foto tersebut tersebar, topik hangat yang jadi perbincangan adalah “siapakah dia?” banyak warga yang mencoba untuk mencari identitas sang anak yang menggendong ibunya tersebut. Laki-laki tersebut bernama Ding Zhu Ji (62 tahun) dan perempuan tua yang digendongnya adalah ibunya yang berusia 82 tahun. Ding adalah seorang mantan petugas Biro Investigasi dari Departemen Kehakiman di Taiwan. Salah seorang kawannya mengatakan kepada Apple Daily bahwa ibu Ding menderita patah tulang pada kaki kirinya dan Ding telah melakukan serangkaian pengobatan kepada sang ibu. Dalam foto tersebut Ding terlihat sedang menggendong ibunya dirumah sakit Chi Mei Medical Center di Taiwan. Ding memutuskan untuk menggendong sang ibu, agar dirinya dapat lebih cepat untuk tiba di rum...

Kisah Seorang Anak yang bangga menjadi Muslim

Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne, Australia. Seperti anak-anak seusianya, Wafa juga masih didominasi sifat kekanak-kanakan. Namun di balik itu semua, ada yang istimewa pada gadis kecil ini. Dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mengenakan jilbab. Padahal Wafa bersekolah di public school, bukan di sekolah Islami. Gadis kecil ini tak pernah mau melepas jilbabnya meski saat ini tidak tinggal di Indonesia. Tak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengenakan jilbab. Meski berada di lingkungan asing, dengan resiko akan ‘diasingkan’ oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli dan kokoh dengan pendiriannya. Suatu hari, Australia sedang dilanda heatwave. Waktu itu suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Karena kasihan, guru Wafa memintanya untuk membuka jilbab agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab, “Its okay, Miss. I’m alright,” Sang guru pun sampai menyampaikan kekaguman atas ...