Langsung ke konten utama

Apakah Sanad dan Ijazah Dalam Keilmuan Islam?

Ijazah sanad adalah salah satu khazanah keilmuan yang diwariskan oleh para salaf dan ulama kita hingga era sekarang, meskipun faedah dan manfaatnya tak sebesar era salaf atau era riwayat, namun pada beberapa jenis sanad terkhusus sanad Qiraat Al-Quran, ia masih menjadi sebuah tuntutan.


Ijazah sanad kontemporer bisa dibagi dalam beberapa kategori, di antaranya:
1-Ijazah sanad Al-Quran atau Qiraatnya.
2-Ijazah sanad buku-buku klasik selain Al-Quran.
3-Ijazah sanad selain buku atau kitab; seperti ijazah azan, ijazah sanad khat atau kaligrafi, ijazah sanad mud atau sha’, atau lainnya.

Salah satu pertanyaan yang muncul: Apakah ijazah sanad ini menjadi tolok ukur pemahaman seseorang terhadap buku atau sesuatu yang ia dapati ijazah sanadnya?
Jawabannya adalah berdasarkan perincian dari tiga kategori ijazah sanad di atas yang akan dibahas secara ringkas di bawah ini:

Pertama: Ijazah sanad Qiraat Al-Quran. Secara umum ijazah sanad Qiraat Al-Quran di era ini tidak bisa diberikan oleh seorang Muqri’ kecuali bila ia menganggap muridnya tersebut telah memahami tajwid teori sekaligus tajwid praktis, dan sang murid telah mengkhatamkan Al-Quran di hadapannya. Jadi, era sekarang ijazah sanad dalam Qiraat Al-Quran masih menjadi tolok ukur pemahaman dalam bidang tajwid dan bacaan Al-Quran. Adapun kalau ada di luar itu, maka itu hanyalah sebagian kecil, dan tolok ukur kita adalah pada mayoritas dan hukum asal.

Kedua: Ijazah sanad buku-buku klasik selain Al-Quran. Secara umum ijazah jenis ini memang tidak menjadi tolok ukur pemahaman seseorang yang mendapatkannya, karena jenis pengijazahannya pun beragam; ada yang lewat majelis baca buku, ada yang hanya lewat ucapan atau surat atau tulisan ijazah sanad tanpa membaca bukunya, ada juga lewat perantara orang lain atau bahkan via telpon atau medsos. Namun, perlu diketahui bahwa ada beberapa ulama yang tidak memberikan ijazah sanad buku tertentu kecuali muridnya harus mengikuti syarah buku tersebut dan tamat dalam ujian buku dan syarahnya; seperti Syaikh Mahir Al-Fahl, atau beberapa ulama lainnya. Sehingga, ijazah sanad yang seperti ini juga bisa menjadi tolok ukur pemahaman seseorang terhadap buku yang ia dapatkan sanadnya.

Ketiga: Ijazah sanad selain buku-buku klasik. Ini bisa dibagi dalam dua jenis:
1-Ijazah sanad yang diberikan dengan harus menguasai hal yang disanadkan; seperti azan, atau keterampilan khat/kaligrafi. Jadi, ijazah sanad dalam bidang ini bisa menjadi tolok ukur pemahaman seseorang terhadap azan atau khat.
2-Ijazah sanad yang diberikan tanpa harus ada syarat menguasai hal yang disanadkan; seperti ijazah sanad mud atau sha’.

Mungkin, ada yang mau bertanya: Kalau era sekarang, ijazah sanad dalam bidang hadis itu apa gunanya karena tidak lagi menjadi tolok ukur validitas suatu hadis? Maka jawabannya di antaranya sbb:
1-Sebagai bentuk pelestarian budaya salaf dalam keilmuan,
2-Agar silsilah sanad yang menjadi keistimewaan umat ini tidak terputus,
3-Memasukkan orang yang mendapat sanad –apalagi ia ahli ilmu- dalam silisilah ulama yang akan mendapatkan doa orang-orang yang mendapatkan sanad dari jalurnya,
4-Ia merupakan syarat kesempurnaan seorang ahli hadis yang memang biasanya harus memiliki ijazah sanad pada buku-buku hadis tertentu sebagaimana diisyaratkan Ibnu Hajar rahimahullah dalam An-Nukat.

Adapun faedah pengambilan ijazah sanad lewat majelis baca kitab atau syarahnya baik kitab hadis atau selainnya, maka sangat besar dan luar biasa, sebagaimana manfaat kita duduk bermajelis ilmu seperti biasanya, juga untuk mendengarkan bacaan kitab secara langsung dan mengetahui cara baca kalimat-kalimat tertentu terutama nama-nama ulama atau tempat yang para penuntut ilmu seringkali salah membacanya. Subscribe dan berikan dukungan kepada Youtube kami 

Dalam kitabnya Al-Mab’ats, Abu Syaamah rahimahullah menyebutkan bahwa menuntut ijazah sanad dengan menghadiri majelis-majelis bacaan buku klasik di berbagai tempat adalah aktiftas yang sia-sia dan membuang-buang waktu karena tidak lagi memberikan manfaat pada era sekarang. Namun, klaim ini telah dibantah oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam An-Nukat; bahwa manfaat menghadiri majelis-majelis ini untuk mendapatkan ijazah sanad masih dibutuhkan (sebagaimana manfaatnya telah disebutkan di atas), juga karena ia merupakan salah satu syarat kesempurnaan seorang ahli hadis. Pengajian-pengajian Al-Quran sekitaran Jakarta dan Bekasi

Demikian. Kalau ada kurangnya harap dikomentari. Serba-serbi ini hanyalah sekedar inspirasi dan buah pikiran sesaat, tentunya bersumber dari pengalaman penulis terhadap dunia ijazah sanad; baik sanad Qiraat Al-Quran, sanad buku-buku hadis, ataupun sanad-sanad lainnya seperti sanad mud atau sha’. Wassalaam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Janji Allah benar, Setelah 14 Abad wafat Jasad Hamzah (Paman Nabi Saw) Ditemukan Dalam Keadaan Utuh

Oktober 2013 sewaktu terjadi banjir di Madinah, makam 70 orang keluarga Perang Uhud ikut dilanda banjir. Setelah banjir surut, jenasah para sahabat-pun akhirnya terlihat keluar dalam keadaan masih utuh karena mereka dikuburkan di kawasan padang pasir, darahnya masih mengalir harum. Jenasah para sahabat dimakamkan kembali seperti semula tapi tidak lagi diberi nama-nama jenasah tersebut  kecuali jenasah Hamzah ra karena diketahui dari luka didadanya, badannya tinggi besar. Jenasahnya masih berdarah dan harum. Bahkan tangannya masih memegang lukanya akibat terkena tombak, yang masih keluar darah. Walaupun sudah beberapa ribu tahun. Dan yang satu lagi adalah Abdullah bin Jaz ra karena diketahui dari telinga dan hidungnya yang terpotong akibat diikat benang. Kedua orang inilah yang sekarang nisannya ada di Uhud. Jadi kalau sekarang kita berziarah ke Gunung Uhud, hanya ada 2 nisan saja. Berikut adalah sebagian isi dari kaset pembicaraan Dr Thariq As-Suwaidan tentang peristiwa te...

Kisah Nyata Pria China Merawat Ibunya Yang Sudah Renta

Foto di atas memperlihatkan seorang pria Cina yang sedang menggendong seorang wanita tua yang adalah ibunya sendiri. Layaknya seorang ibu yang menggendong anaknya yang masih kecil dengan kain gendongan. Tiga hari selepas foto tersebut tersebar, topik hangat yang jadi perbincangan adalah “siapakah dia?” banyak warga yang mencoba untuk mencari identitas sang anak yang menggendong ibunya tersebut. Laki-laki tersebut bernama Ding Zhu Ji (62 tahun) dan perempuan tua yang digendongnya adalah ibunya yang berusia 82 tahun. Ding adalah seorang mantan petugas Biro Investigasi dari Departemen Kehakiman di Taiwan. Salah seorang kawannya mengatakan kepada Apple Daily bahwa ibu Ding menderita patah tulang pada kaki kirinya dan Ding telah melakukan serangkaian pengobatan kepada sang ibu. Dalam foto tersebut Ding terlihat sedang menggendong ibunya dirumah sakit Chi Mei Medical Center di Taiwan. Ding memutuskan untuk menggendong sang ibu, agar dirinya dapat lebih cepat untuk tiba di rum...

Kisah Seorang Anak yang bangga menjadi Muslim

Wafa adalah seorang gadis kecil berumur 7 tahun. Saat ini, dia bersekolah di Albany Rise Primary School, Melbourne, Australia. Seperti anak-anak seusianya, Wafa juga masih didominasi sifat kekanak-kanakan. Namun di balik itu semua, ada yang istimewa pada gadis kecil ini. Dia satu-satunya murid di sekolahnya yang mengenakan jilbab. Padahal Wafa bersekolah di public school, bukan di sekolah Islami. Gadis kecil ini tak pernah mau melepas jilbabnya meski saat ini tidak tinggal di Indonesia. Tak ada paksaan dari orang tuanya untuk mengenakan jilbab. Meski berada di lingkungan asing, dengan resiko akan ‘diasingkan’ oleh teman-temannya, dia tetap tidak peduli dan kokoh dengan pendiriannya. Suatu hari, Australia sedang dilanda heatwave. Waktu itu suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Karena kasihan, guru Wafa memintanya untuk membuka jilbab agar tidak terlalu kepanasan. Namun dengan tenang Wafa menjawab, “Its okay, Miss. I’m alright,” Sang guru pun sampai menyampaikan kekaguman atas ...